BAB 8 : Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Negara Indonesia
memmpunyai keberagaman budaya meliputi ras, etnis, agama bahasa, kebiasaan,
sistem nilai dan lain sebagainya. Masyarakatlah yang menjadi bagian
terpenting dalam menjalankan proses social tersebut. Banyaknya keberagaman
budaya yang dimiliki Negara Indonesia membuat masalah social dikehidupan sosial
masyarakat. Salah satunya adalah pertentangan sosial dan integrasi sosial.
Pertentangan
sosial adalah suatu kegiatan yang menyimpang dari ilmu-ilmu sosial biasanya
terjadi karena kesalah pahaman. Kesalah pahaman bisa di atasi dengan cara
adanya penyatuan suatu pemikiran dan budaya dari sekelompok masyarakat itu
sendiri. Hal ini disebut dengan integrasi sosial.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
perbedaan kepentingan?
2. Apa
yang diketahui tentang prasangka diskriminasi dan etnosentris?
3. Bagaimana
pertentangan social ketegangan dalam masyarakat?
4. Apa
yang diketahui tentang golongan-golongan yang berbeda dan integrasi social?
5. Apa
yang dimaksud dengan integrasi internasional?
C.
Tujuan
Masalah
1. Mengetahui
dan memahami perbedaan kepentingan, prasangka diskriminasi dan etnosentris, bagaimana
pertentangan social ketegangan dalam masyarakat, golongan-golongan yang berbeda
dan integrasi social serta integrasi internasional
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perbedaan kepentingan
Setiap individu mempunyai
pemikiran dan cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan. Individu mempunyai
pengertian bahwa tidak
ada dua orang yang sama persis dalam aspek-aspek pribadinya, baik jasmani
maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal
kepentingannya sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Kepentingan bersifat esensial
bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri, jika individu berhasil memenuhi
kepentingannya, maka ia akan merasakan kepuasan dan sebaliknya kegagalan dalam
memenuhi kepentingan akan menimbilkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi
lingkungannya. Oleh karena itu, setiap individu mempunyai kepentingan yang
berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Terdapat perbedaan kepentingan yaitu
sebagai berikut :
1.
Kepentingan
individu untuk memperoleh kasih sayang
2.
Kepentingan
individu untuk memperoleh harga diri
3.
Kepentingan
individu untuk memperoleh penghargaan yang sama
4.
Kepentingan
individu untuk memperoleh prestasi dan posisi
5.
Kepentingan
individu untuk dibutuhkan orang lain
6.
Kepentingan
individu untuk memperoleh kedudukan di dalam kelompoknya
7.
Kepentingan
individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
8.
Kepentingan
individu untuk memperoleh kemerdekaan diri.
Perbedaan kepentingan
tersebut menunjukkan ketidakmampuan suatu ideologi mewujudkan idealisme yang
akhirnya akan melahirkan suatu konflik atau disintegrasi. Salah satu penyebab
timbulnya konflik adalah adanya jarak yang terlalu besar antara harapan dengan
kenyataan pelaksanaan.
2.2 Prasangka Diskriminasi dan Ethosentris
1. Prasangka
Diskriminasi
Prasangka (prejudice) diaratikan suatu anggapan terhadap sesuatu dari
seseorang bahwa sesuatu itu buruk dengan tanpa kritik terlebih dahulu. Baha
arab menyebutnya “sukhudzon”. Orang, secara serta merta tanpa timbabang-timbang
lagi bahwa sesuatu itu buruk. Dan disisi lain bahasa arab “khusudzon” yaitu
anggapan baik terhadap sesuatu.
Prasangka menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada
tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik
secara positif atau negarif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang
baru diketahui setelah ia bertindak atau beringkah laku. Oleh karena itu bisa
saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka
merupakan kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul
tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan
tindakan yang relaistis, sedangkan prsangka tidak realistis dan hanya diketahui
oleh diri individu masing-masing.
Prasangka ini
sebagian bear sifatnya apriori, mendahului pengalaman sendiri (tidak berdasarkan pengalaman sendiri), karena
merupakan hasil peniruan atau pengoperan langsung pola orang lain. Prasangka
bisa diartikan suatu sikap yang telampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi
yang terlampau cepat, sifat berat sebelah, dan dibarengi proses simplifikasi
(terlalu menyederhanakan) terhadap sesuatu realita. Dalam kehidupan sehari-hari
prasangka ini banyak dimuati emosi-emosi atau unsure efektif yang kuat.
Prasangka
mempunyai dasar pribadi, dimana setiap orang memilikinya. Melalui proses
belajar dan semakin dewasanya manusia, membuat sikap cenderung membeda-bedakan
dan sikap tersebut menjurus kepada prasangka. Apabila individu mempunyai
prasangka dan biasanya bersifat diskriminatif terhadap ras yang diprasangka.
Jika prasangka disertai dengan agresivitas dan rasa permusuhan, biasanya orang
yang bersangkutan mencoba mendiskiminasikan pihak-pihak lain yang belum tentu
salah, dan akhirnya dibarengi dengan sifat Justifikasi diri,
yaitu pembenaran diri terhadap semua tingkah laku diri.
Perbedaan
Prasangka dan diskriminasi dapat diterangkan sebagai berikut
1) Prasangka
·
Prasangka adalah suatu tindakan atau perilaku
terhadap sesuatu baik secara positif maupun negatif.
·
Menurut
Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif
atau negarif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui
setelah ia bertindak atau beringkah laku. Oleh karena itu, bisa saja bahwa
sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan.
·
Prasangka
bersumber dari sikap
·
Prasangka merupakan kecenderungan yang tidak
nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya
realistis.
·
Prasangka
bisa diartikan suatu sikap yang telampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi
yang terlampau cepat, sifat berat sebelah, dan dibarengi proses simplifikasi
(terlalu menyederhanakan) terhadap sesuatu realita.
·
Prasangka
sebagian besar sifatnya apriori, mendahului pengalaman sendiri (tidak
berdasarkan pengalaman sendiri), karena merupakan hasil peniruan atau
pengoperan langsung pola orang lain.
2) Diskriminasi
·
Diskriminasi
menunjukkan pada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap prasangka
dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tak dapat dipisahkan.
Seseorang yang mempunyai prasangka
rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya.
Walaupun begitu, biasa saja seseorang bertindak diskriminatif tanpa latar
belakang prasangka. Demikian juga sebaliknya seseorang yang berprasangka dapat
saja bertindak tidak diskriminatif.
·
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak
adil terhadap individu tertentu
·
Diskriminasi sering kita jumpai di kehidupan
masyarakat disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membedakan satu dengan
yang lain.
Diskriminasi dibagi menjadi
2 yaitu sebagai berikut:
a.
Diskriminasi
langsung
Diskriminas langsung terjadi saat hukum,
peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu,
seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang
yang sama.
b.
Diskriminasi tidak
langsung
Diskriminasi tidak
langsung terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi
diskriminatif saat diterapkan di lapangan.
Sebab-sebab
timbulnya prasangka dan diskriminasi :
1. Berlatar
belakang sejarah
Contohnya
adalah Orang-orang kulit putih di Amerika Serikat berprasangka negative terhadp
orang-orang Negro yang berlatar belakang pada masa lampau
2. Dilatar-belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan
situasional
Maksudnya
adalah suatu prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap
individu lain atau tehadap kelompok sosial tertentu. Pada sisi lain prasangka
dapat berkembang lebih jauh, sebagai akibat adanyajurang pemisah antara
kelompok orang-orang kaya dan kelompok orang-orang miskin. Contohnya adalah
harta kekayaan orang-orang kaya baru, diprasangka bahwa harta-harta itu didapat
dari usaha-usaha yang tidak halal.
3. Bersumber
dari faktor kepribadian
Bersumber dari
keadaan frustasi dari beberapa orang atau kelompok sosial yang merupakan
kondisi cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif.
4. Berlatang
belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
Prasangka yang
berakar dari hal-hal tersebut dapat
dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal.
Usaha-usaha
mengurangi atau menghilangkan prasangka dan diskriminai
1.
Perbaikan kondisi sosial ekonomi
2.
Perluasan kesempatan belajar
3.
Sikap terbuka dan sikap lapang
2.
Etnosentris
Etnosentrisme
yaitu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya
sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dapat dipergunakan
sebagai tolah ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain. Hal
tersebut dilakukan untuk menginterpretasikan atau menilai kelompok lain dengan
tolak ukur kebudayaannya sendiri. Etnosentris merupakan gejala sosial yang
universal, dan sikapnya dilakukan secara tidak sadar. Etnosentris merupakan
kecenderungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau menilai kelompok lain
dengan tolak ukur kebudayaannya sendiri. Akibatnya etnosentrik penyebab utama
kesalah pahaman dalam berkomunikasi karena tingkah laku berkomunikasi yang
canggung dan tidak luwes.
2.3
Pertentangan Sosial Ketegangan dalam
masyarakat
Pertentangan
atau sering disebut konflik adalah suatu tingkah laku yang lebih luas dari pada
yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang
kasar atau perang. Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang
merupakan cirri-ciri dari situasi konflik yaitu :
1.
Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau
baigan-bagianyang terlibat di dalam konflik
2.
Unti-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang
tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan,
masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan
3.
Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang
mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan
emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau
permusuhan. Konflik dapat terjadi paa lingkungan yang paling kecil yaitu
individu, sampai kepaa lingkungan yang luas yaitu masyarakat.
1.
Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk
kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan yang
antagonistic didalam diri seseorang
2.
Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik
yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota
kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi
mereka untuk menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
3.
para taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada
perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an
norma-norma kelompok yang bersangkutan berbeda.Perbedan-perbedaan dalam nilai,
tujuan dan norma serta minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup
dan sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang
aa dalam kebudayaan-kebudayaan lain.
Adapun cara-cara pemecahan
konflik tersebut adalah :
1.
elimination; yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang telibat dalam konflik yagn
diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami keluar, kami
membentuk kelompok kami sendiri
2.
Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak
yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk
mentaatinya
3.
Mjority Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan
dengan voting akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4.
Minority Consent; artinya kelompok mayoritas yang
memenangkan, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima
keputusan serta sepakan untuk melakukan kegiatan bersama
5.
Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang
telibat dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah
6.
Integration; artinya pendapat-pendapat yang
bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok
mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak
2.4
Golongan-golongan yang Berbeda dan Integrasi Sosial
Masyarakat
Indonesia digolongkan sebagai masyarakat
majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan
sosial yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara
Indonesia.
Integrasi sosial adalah proses
penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu
kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebur dapat meliputi ras, etnis, agama
bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan lain sebagainya.
Pengertian integrasi sosial Baton integrasi
sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam
masyarakat, tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan pada ras
tersebut
Syarat terjadinya Integrasi Menurut
William F. Ogburn dan Meyer Nimkoff, syarat terjadinya integrasi sosial
adalah :
- Anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan mereka
- Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (konsensus) bersama mengenai nilai dan norma
- Nilai dan norma sosial itu berlaku cukup lama dan dijalankan secara konsisten
Faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya proses
integrasi
- Homogenitas kelompok, pada masyarakat yang homogenitasnya tinggi integrasi sangat mudah tercapai , demikian sebaliknya jika Homogenitas kelompok rendah maka integrasi sulit tercapai.
- Besar kecilnya kelompok, jumlah anggota kelompok mempengaruhi cepat lambatnya integrasi karena membutuhkan penyesuaian diantara anggota.
- Mobilitas geografis, semakin sering anggota suatu masyarakat datang dan pergi maka semakin mempengaruhi proses integrasi
- Efektifitas komunikasi, semakin efektif komunikasi, maka semakin cepat integrasi anggota-anggota masyarakat tercapai.
Bentuk-bentuk integrasi sosial
- Integrasi Normatif : integrasi yang terjadi akibat adanya norma-norma yang berlaku dimasyarakat, contoh masyarakat Indonesia dipersatukan oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika
- Integrasi Fungsional, integrasi yang terbentuk sebagai akibat adanya fungsi-fungsi tertentu dalam masyrakat. Contoh Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, mengintegrasikan dirinya dengan melihat fungsi masing-masing, suku bugis melaut, jawa pertanian, Minang pandai berdagang.
- Integrasi Koersif, integrasi yang terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa.. Dalam hal ini penguasa menggunakan cara koersif.
Proses Integrasi
- Asimilasi : berhadapannya dua kebudayaan atau lebih yang saling mempengaruhi sehingga memunculkan kebudayaan baru dengan meninggalkan sifat asli.
- Akulturasi : proses sosial yang terjadi bila kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing (baru), sehingga kebudayaan asing (baru) diserap/diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri, tanpa meninggalkan sifat aslinya.
Faktor-faktor Pendorong Integrasi Sosial
- Adanya tolerasnsi terhadap kebudayaan yang berbeda
- Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi
- Mengembangkan sikap saling menghargai orang lain dengan kebudayaannya
- Adanya sikap yang terbuka dengan golongan yang berkuasa
- Adanya persamaan dalam unsur unsur kebudayaan.
- Adanya perkawinan campur (amalgamasi)
- Adanya musuh bersama dari luar.
2.5
Integrasi Internasional
Integrasi Internasional merupakan masalah yang dialami semua
negara di dunia, yang berbeda adalah bentuk permasalahan yang dihadapinya.
Menghadapi masalah integritas sebenarnya tidak memiliki kunci yang pasti karena
latar belakang masalah yang dihadapi berbeda, sehingga integrasi diselesaikan
sesuai dengan kondisi negara yang bersangkutan, dapat dengan jalan kekerasan
atau strategi politik yang lebih lunak.
Secara garis besar masalah integrasi internasional,
diantaranya sebagai berikut:
1.
Perbedaan
ideology
2.
Kondisi
masyarakat yang majemuk
3.
Masalah
teritorial daerah yang berjarak cukup jauh
4.
Pertumbuhan
partai politik
Upaya-upaya yang dilakukan untuk
memperkecil atau menghilangkan kesenjangan-kesenjangan itu, antara lain:
1. Mempertebal keyakinan seluruh warga
Negara Indonesia terhadap Ideologi Nasional
- Membuka isolasi antar berbagai kelompok etnis dan antar daerah/pulau dengan membangun saran komunikasi, informasi, dan transformasi
- Menggali kebudayaan daerah untuk menjadi kebudayaan nasional
- Membentuk jaringan asimilasi bagi kelompok etnis baik pribumi atau keturunan asing
Konsep integrasi
internasional/regional berbeda dengan konsep serupa tentang
internasionalisme/regionalisme, kerjasama internasional/regional, organisasi
internasional/regional, gerakan internasional/regional, sistem
internasional/regional, dll. Integrasi menitikberatkan perhatiannya pada proses
atau relationship, di mana pemerintahan secara kooperatif bertalian bersama
seiring dengan perkembangan homogenitas kebudayaan, sensitivitas tingkah laku,
kebutuhan sosial ekonomi, dan interdependensi yang dibarengi dengan penegakan
institusi supranasional yang multidimensi demi memenuhi kebutuhan bersama.
Hasil akhirnya adalah kesatuan politik dari negara-negara yang terpisah di
tingkat global maupun regional [Tom Travis, Usefulness of Four Theories of
International Relations in Understanding the emerging Order, Jurnal
International Studies 31].
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pertentangan sosial
dan integritas masyarakat adalah suatu hal yang saling berkaitan satu sama
lain. jika suatu individu mempunyai suatu prasangka maka individu itu akan
bersikap berbeda, dari prangsa tersebut akan timbul sikap membeda-bedakan,
individu tersebut akan bersikap bahwa kebudayaan dirinya lebih baik dari pada
kebudayaan orang lain, yang akan menimbulkan suatu pertentangan atau konflik
antar individu dengan cara melawan pihak lawan biasanya secara kekerasan. Suatu
individu atau kelompok yang sedang konflik biasanya mengalami disintegrasi yang
dinamakan integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang
berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang
berbeda tersebur dapat meliputi ras, etnis, agama bahasa, kebiasaan, sistem
nilai dan lain sebagainya.
3.2 3. 2 Saran
Setiap individu mempunyai suatu pemikiran yang berbeda-beda
sehingga menimbulkan pertentengan-pertentengan. Untuk itu, kita harus
menyikapinya dengan baik secara bermusyawarah.
Saya
sadar penulisan ini belum baik untuk itu saya butuh saran dan kritik yang
membangun.
STUDI
KASUS
Tahun 2012 Masih Rentan Konflik Sosial
JAKARTA, KOMPAS.com -- Gerakan radikalisme dan konflik sosial diprediksi masih
akan terus terjadi pada tahun-tahun mendatang. Pada tahun 2012, pemerintah dan
khususnya aparat keamanan, harus mewaspadai terjadinya aksi radikalisme yang
terdiri dari konflik-konflik sosial dan kekerasan atas nama agama.
Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Lazuari
Birru, Dhyah Ruth, Jumat (3/2/2012) di Jakarta. Menurut Dhyah, radikalisme yang
terkait dengan konflik-konflik sosial bersumber dari deprivasi ekonomi, yaitu
perasaan terpinggirkan secara ekonomi.
Selain itu, menurut Dhyah, karena adanya perasaan kalangan
masyarakat yang teralienasi, yaitu perasaan terasing hidup di lingkungan
sendiri. Lalu, adanya perasaan terancam dari kelompok masyarakat, yaitu
perasaan bahwa posisinya dilemahkan atau tertekan.
Kelompok radikal, kata Dhyah, berpotensi besar melakukan
infiltrasi terhadap konflik-konflik sosial yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat. Isu-isu marginalisasi, kesenjangan ekonomi, dan kemiskinan, tetap
menjadi fokus kampanye kelompok radikal.
Selain itu, pertentangan kelas juga menjadi isu yang sangat
mudah dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu untuk menyulut kekerasan.
Misalnya, buruh dengan pengusaha atau petani dengan pengusaha agrobisnis atau
perkebunan.
Dhyah mengungkapkan, dari survei indeks radikalisme Lazuardi
Birru tahun 2011, kelompok pekerjaan petani, nelayan dan peternak memiliki
indeks kerentanan tertinggi, yaitu 46,4. Kemudian, kelompok pengangguran
memiliki skor indeks kerentanan 44,8, dan kelompok buruh dan pekerjaan
serabutan mencapai 43.9.
"Skor itu berada di atas titik aman, yaitu 33,3. Skor 0
menunjukkan tidak radikal dan skor 100 menunjukkan sangat radikal,"
jelasnya.
Editor :
Nasru Alam Aziz
sumber
:http://nasional.kompas.com/read/2012/02/03/22564017/Tahun.2012.Masih.Rentan.Konflik.Sosial
REFERENSI
Komentar
Posting Komentar