BAB 9 : Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar belakang
Di zaman modern ini masyarakat dunia tidak asing lagi mendengar kata “Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan. Masyarakat dunia selalu berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan. Ilmu pengetahuan merupakan jalur utama untuk meningkatkan ilmu-ilmu yang didalamnya, yang dapat diterapkan dalam sebuah teknologi. Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan yang mungkin permasalahannya adalah kontinuitas dan perubahan, harmoni dan disharmoni. Ketiga masalah ini akan melihat masa lalu atau masa depan yang penuh tantangan hidup, ketidakpastian, dan dapat melibatkan perdebatan semantika.
Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang dapat menyonsong masa depan, yang sudah diberi kepercayaan yang mendalam. Teknologi dapat mempermudah kehidupan manusia dan mempunyai dampak sosial yang sering lebih penting artinya daripada kehebatan teknologi itu sendiri, maksudnya adalah teknologi mempunyai pengaruh dampak yang positif dan negative lebih besar daripada seberapa besar kehebatan dan kecanggihan teknologi itu sendiri.
Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental dari cita-cita masyarakat adil dan makmur. Berbicara tentang kemiskinan akan menghadapkan kita pada persoalan lain, seperti persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok, posisi manusia dalam lingkungan sosial dan persoalan yang lebih jauh, bagaimana ilmu pengetahuan (ekonomi) dan teknologi memanfaatkan sumber daya alam untuk mengurangi kemiskinan di tengah masyarakat. Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan merupakan bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi, interelsi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya).
           
B.      Rumusan Masalah
1.       Apa yang diketahui tentang ilmu pengetahuan?
2.       Apa yang diketahui tentang teknologi?
3.       Apa yang diketahui tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan nilai?
4.       Apa yang diketahui tentang kemiskinan?

C.      Tujuan Masalah
1.      Mengetahui tentang ilmu pengetahuan, teknologi, nilai, dan kemiskinan




BAB II
LANDASAN TEORI



2.1    Ilmu Pengetahuan
 Dikalangan ilmuwan, ilmu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur , yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum, dan akumulatif. Pengertian pengetahuan menurut para ahli yaitu :
·     Decartes : Ilmu pengetahuan merupakan serba budi
·     Bacon dan David Home : Pengetahuan sebagai pengalaman indera dan batin
·     Immanuel Kant : Pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman
·     Aristoteles : Pengetahuan merupakan yang dapat di iinderai dan dapat merangsang budi
·     Teori Phyroo : Tidak ada kepastian dalam pengetahuan

Langkah-langkah dalam memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan. Dimulai dengan pengamatan, yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan utuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analitis, sintesis, induktif, dan deduktif. Yang terakhir yaitu pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan pengingkaran.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah mendukung dalam mencapai tujuan ilmu itu sendiri, supaya objektif terlepas dari prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang bersifat ilmiah sebagai berikut :
·     Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih
·     Selektif, artinya mengadakan pemilihan yang didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
·     Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tidak dapat diubah maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
·     Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, mapun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian. Namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali. 
Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, dan sikap ilmuwan. Ilmu pengetahuan mencakup ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan kemanusian serta sebagai generik meliputi segala usaha penelitian dasar dan terapan serta pengembangannya.

2.2     Teknologi
 Menurut Walter Buckingham teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni industri, oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya efisiensi kerja menurut keragaman kemampuan. Pengertian lain teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada.
Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah suatu teknologi yang telah memenuhi tiga syarat utama yaitu :
1. Persyaratan Teknis
  • Memperhatikan kelestarian tata lingkungan hidup, menggunakan sebanyak mungkin bahan baku dan sumber energi setempat dan sesedikit mungkin menggunakan bahan import.
  • Jumlah produksi harus cukup dan mutu produksi harus diterima oleh pasar yang ada.
  • Menjamin agar hasil dapat diangkut ke pasaran dan masih dapat dikembangkan, sehingga dapat dihindari kerusakan atas mutu hasil.
  • Memperlihatkan tersedianya peralatan serta operasi dan perawatannya.
2. Persyaratan Sosial
  • Memanfaatkan keterampilan yang sudah ada.
  • Menjamin timbulnya perluasan lapangan kerja yang dapat terus menerus berkembang.
  • Menekan seminimum mungkin pergeseran tenaga kerja yang mengakibatkan bertambahnya pengangguran.
  • Membatasi sejauh mungkin timbulnya ketegangan sosial dan budaya dengan mengatur agar peningkatan produksi berlangsung dalam batas-batas tertentu sehingga terwujud keseimbangan sosial dan budaya yang dinamis.
3. Persyaratan Ekonomik
  • Membatasi sedikit mungkin kebutuhan modal.
  • Mengarahkan pemakaian modal agar sesuai dengan rencana pengembangan lokal, regional dan nasional.
  • Menjamin agar hasil dan keuntungan akan kembali kepada produsen.
  • Dapat mengarahkan lebih banyak produsen ke arah cara penghitungan ekonomis yang sehat.
Teknologi tepat guna kalah dalam menghadapi teknologi barat yang masuk dengan ditunggangi oleh sekelompok orang yang bermodal besar. Ciri-ciri teknologi barat adalah :
·       Serba intensif dalam segala hal, seperti modal, organisasi, tenaga kerja, dll sehingga lebih dominan dengan kaum elit
·       Dalam struktur sosial, teknologi barat melestarikan ketergantungan
·       Kosmologi atau pandangan teknologi barat adalah mengganggap dirinya sebagai pusat yang lain ferferi, waktu berkaitan dengan kemajuan secara linier, memahami realitas secara terpisah dan berpandangan manusia sebagai tuan atau mengambil jarak dengan alam

2.3     Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Nilai
 Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral hal ini dikarenakan dampaknya dapat dirasakan melalui kebijakan pembangunan. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkurangnya perhatian terhadap nilai, moral, dan segi kemanusiannya. Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki 3 komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunya yaitu :
·     Ontologis, dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, atau objek formal dari suatu pengetahuan. Kaitan ontologis dengan nilai dalam kegiatannya adalah menafsirkan hikayat realitas yang ada
·     Epistemologis, merupakan pembahasan bagaimana mendapatkan pengetahuan. Epistemologis berkaitan dengan nilai pada saat proses logis, hipotesis, dan verifikasi
·     Aksiologis, adalah asas mengunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan. Aksiologis berkaitan dengan nilai dimana ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan demi kemaslahatan manusia.
Membuktikan bahwa ilmu tidak bebas nilai. Ilmu yang bebas nilai adalah suatu tuntutan yang ditujukan kepada semua kegiatan ilmiiah atas dasar hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai berasal dari ekses penerapan ilmu dan teknologi sendiri. Sikap ilmuwan terbagi menjadi 2 golongan yaitu :
·       Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologism maupun aksiologis, dalam penggunaannya tergantung kepada tujuan ilmuwan untuk tujuan baik atau tujuan buruk. Golongan ini berasumsi bahwa kebenaran dijunjung tinggi sebagai nilai, sehingga nilai kemanusian lainnya dikorbankan demi teknologi
·       Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, dalam pengunaan dan penelitian harus berdasarkan asas-asas moral. Golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses yang terjadi apabila ilmu dan teknologi disalahgunakan.

2.4     Kemiskinan
 Kemiskinan yaitu kurangnya pendapatan penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan dan papan. Kemiskinan mrupakan salah satu masalah besar yang dihadapi oleh negara berkembang terutama di Indonesia. Angka nilai kemiskinan dapat menentukan seberapa besar negara menangani masalah ini. Garis kemiskinan dapat menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh 3 hal yaitu :
·  Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki
·     Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
·     Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi
Kemiskinan bukanlah suatu yang terwujud dengan sendiri terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Terutama aspek sosial dan aspek ekonomi. Aspek sosial adalah adanya ketidaksamaan sosial di antara sesama warga masyarakat yang bersangkutan, seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber dari corak sistem pelapisan yang ada dalam masyarakat. Sedangkan aspek ekonomi adalah adanya ketidaksamaan di antara sesama warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.
Penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin ditetapkan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :
1. Tingkat pendapatan
2. Kebutuhan relatif per-keluarga
Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau mental seseorang. Pada aspek badaniah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha secara wajar, sebagaimana manusia lainnya.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih layak.
3. Kemiskinan buatan atau kemiskinan struktural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan politik.
Usaha memerangi kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin. Karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomilainnya. 

Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kaitannya Dengan Kemiskinan

Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya.

Bila ditelaah, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Padahal manusia dalam pekerjaan ilmiahnya tidak hanya bekerja dengan akal budinya, melainkan dengan seluruh eksistensinya. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat netral dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama. Ilmuwan selaku ahli teknologi harus bersikap mempunyai tanggung jawab sosial, yakni tanggung jawab terhadap masyarakat menyangkut asas moral mengenai penelitian etis terhadap obyek penelaahankeilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah (teknologi) dengan segala akibat sosialnya.

Dalam hal kemiskinan struktural, ternyata adalah buatan manusia terhadap manusia lainnya yang timbul dari akibat dan dari struktur politik, ekonomi, teknologi dan sosial buatan manusia pula. Perubahan teknologi yang cepat mengakibatkan kemiskinan, karena mengakibatkan terjadinya perubahan sosial yang fundamental. Sebab kemiskinan diantaranya disebabkan oleh struktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi antara manusia dengan sumber kemakmuran, hasil produksi dan mekanisme pasar. Kesemuanya merupakan sub sistem atau sub struktur dari sistem kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Studi Kasus

Ini Sebab Angka Kemiskinan RI Masih Tinggi
Liputan6.com, Jakarta - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute National Development and Financial (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan secara umum masih tingginya persentase kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang masih belum bisa dikendalikan pemerintah. Oleh sebab itu, mereka yang berada di kelompok rentan miskin bisa dengan mudah tergelincir ke dalam kategori miskin.

"Ketika tidak ada kebijakan yang bisa mengerek pendapatan masyarakat untuk naik, maka tentu saja makin tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal. Jadi ketika pendapatan tidak naik, kemudian dibarengi kenaikan harga pokok dan terjadi penyempitan lapangan pekerjaan formal, ini tentu saja akan mendorong kelompok rentan miskin masuk ke kemiskinan. Jadi tidak ada faktor tunggal, misalnya disebabkan rokok semata. Jika seperti itu analisisnya tidak lengkap dan jadi misleading," dia menjelaskan di Jakarta, Kamis (7/1/2016).

Karena itu, dia menilai lebih baik pemerintah fokus menciptakan lapangan pekerjaan di sektor formal. Sebab selama tidak ada ketersediaan lapangan kerja yang memadai, dipastikan akan berdampak terhadap naiknya angka kemiskinan.
Hal ini diungkapkan Enny menjawab penilaian bahwa beras, rokok, dan bensin membuat rakyat Indonesia kian miskin. Seperti diberitakan Liputan6.com, Rabu (6/1/2016), Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan rokok merupakan salah satu penyumbang terbesar garis kemiskinan di Indonesia. ‎

BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan adalah sesuatu yang bertentangan. Teknologi diciptakan oleh manusia demi kesejahteraan umat manusia dan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan arti menciptakan, mencari kesenangan manusia, melindungi dari malapetaka, kelaparan, melindungi dari bahaya kekejaman alam serta memenuhi kebutuhan pokok manusia.

Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas, sebab bagi siapa saja yang bisa menguasai IPTEK maka ia akan bisa maju dan berkembang di era globalisasi sekarang ini dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki kita bisa dapat menciptakan teknologi baru yang hasilnya dapat mengurangi angka kemiskinan.

3.2       Saran
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari harus memperhatikan segala hal supaya tidak menimbulkan dampak negatif


REFERENSI


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB 8 : Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat

Makalah Ilmu Sosial Dasar "Pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan"

ORGANISASI PROFESI DAN KODE ETIK PROFESI